Tentang ASI

Tentang ASI

Saat buah hati ibu tumbuh dan berkembang di dalam kandungan, tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Ini memberinya kekebalan pasif yang mampu melindungi janin ibu dari serangan penyakit selama masa kehamilan. Namun, begitu sang buah hati dilahirkan, ia tidak lagi mendapatkan suplai antibodi. Sementara itu sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum bekerja secara sempurna. Karena itu, bayi sangat rentan terkena resiko infeksi pada tahun pertama hidupnya.

Menurut Professor Guido Moro dari Macedonis Melloni Maternity Hospital di Milan dua pertiga dari sistem kekebalan tubuh bayi ada di bagian perutnya, sehingga sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang ia makan dan minum. Itulah sebabnya mengapa buah hati Ibu yang baru lahir sangat membutuhkan ASI terutama selama 6 bulan pertama kehidupannya.

Sebagai makanan pertama si buah hati, ternyata ASI bukan hanya nutrisi sempurna untuk buah hati dan mendekatkan hubungan emosi antara ibu dan sang bayi, namun sekaligus memberi perlindungan karena ASI bermanfaat memperkuat imunitas alami bayi yang baru lahir.

Begitu banyak manfaat ASI untuk sang buah hati, sepuluh keajaibannya antara lain:

ASI memperkuat sistem kekebalan tubuh. Komponen utama pembangun sistem kekebalan tubuh pada ASI adalah prebiotik
ASI menurunkan terjadinya resiko alergi
ASI menurunkan resiko terjadinya penyakit pada saluran cerna, seperti diare dan meningkatkan kekebalan pada sistem pencernaan
ASI menurunkan resiko gangguan pernafasan, seperti flu dan batuk
ASI kaya akan AA|DHA yang mendukung pertumbuhan kecerdasan anak
ASI mengandung prebiotik alami untuk mendukung pertumbuhan flora usus
ASI memiliki komposisi nutrisi yang tepat dan seimbang (dimana cuma ASI yang memilikinya)
Bayi-bayi yang diberikan ASI menjadi lebih kuat. Menyusui juga menurunkan terjadinya resiko obesitas saat ia tumbuh besar kelak.
Bayi-bayi yang menerima ASI memiliki resiko lebih rendah dari penyakit jantung dan darah tinggi di kemudian hari
Menurut hasil penelitian, menyusui telah terbukti dapat menurunkan resiko kanker payudara, kanker ovarium, dan osteoporosis.

--------------------------------------------------------------------------------

Bila Bayi Muntah-Muntah

Bila Bayi Muntah-Muntah (Posted:2007-09-27 10:07:01)

Selain diare dan dehidrasi, penyakit yang berhubungan dengan makanan dan sering menimpa bayi dan balita adalah muntah-muntah dan sembelit. Pada umumnya, beberapa penyakit tertentu seperti diare, flu dan batuk, juga diiringi gejala muntah-muntah.

Muntah-muntah yang terjadi pada beberapa bulan pertama umumnya adalah sebagai berikut:

a. Gangguan meludah  ini karena bayi menelan susu atau ASI dan udara, sementara udara berada di bawah susu saat berada dalam perut. Ketika perut bayi berkontraksi, udara keluar dari dalam perut dan membawa susu masuk kembali ke kerongkongan. Bisa juga karena bayi baru belajar menyusu, ia mengisap terlalu banyak atau terlalu cepat. Bayi yang dipeluk terlalu keras setelah makan juga terpicu untuk muntah.

Mengatasinya:
• Perlambat pemberian susu. Bila diberi susu formula, beri sedikit saja dengan frekuensi agak sering.
• Sendawakan bayi selama dan setelah pemberian susu. Bila bayi diberi ASI, sendawakan setiap kali akan berpindah ke payudara lainnya.
• Susui bayi dalam posisi tegak lurus, dan bayi tetap tegak lurus selama 20-30 menit setelah disusui.
• Jangan didekap atau diayun-ayun sedikitnya setengah jam setelah menyusu.
• Jika diberi susu botol, pastikan lubang dot tidak terlalu kecil atau terlalu besar.

b. Alergi terhadap susu formula atau alergen dalam ASI  makanan yang dimakan ibu dapat berpengaruh pada bayi, terutama bila ia sangat peka. Tanda-tanda adanya kepekaan terhadap makanan sebaga penyebab kerewelan, sakit perut, serta tingkah laku gelisah, adalah pola yang disebut dengan kolik 24 jam – yaitu rasa sakit yang terjadi maksimum 24 jam setelah ibu mengonsumsi makanan yang dicurigai, tetapi hal itu tidak terjadi lagi sampai ibu mengonsumsi lagi makanan yang sama.

Umumnya makanan yang berpotensi mengganggu dalam ASI adalah produk olahan-berbahan-susu, makanan atau minuman yang mengandung kafein (minuman ringan, cokelat, kopi, teh, dan sebagainya), biji-bijian dan kacang-kacangan (gandum, jagung, kacang tanah, dan lain-lain), makanan pedas, dan makanan yang mengandung gas (brokoli, bawang putih, tauge, cabai hijau, kembang kol, kubis).

c. Gangguan usus atau kemacetan di dalam usus yang membuat susu tidak dapat melintas sehingga kembali ke kerongkongan. Yang paling umum dalam kondisi ini adalah stenosis pylorus. Tanda-tandanya adalah:
• bayi muntah dengan semburan yang sangat kuat dan terjadi terus-menerus
• berat tubuh berkurang atau gagal memperoleh kenaikan berat badan
• terjadi tanda dehidrasi: kulit berkerut, mulut kering, mata kering, dan jumlah popok kotor berkurang
• perut membengkak seperti balon setelah makan dan dikosongkan setelah muntah
• rasa lapar meningkat dan ia bersemangat makan, disusul dengan muntah dan kembali makan dengan bersemangat.

d. Gastroesophagal reflux, atau kondisi di mana isi lambung yang banyak mengandung asam naik kembali ke kerongkongan. Tanda-tandanya adalah:
• bayi sering menangis sangat keras dan sulit dibujuk untuk diam
• sering muntah-muntah, bahkan juga melalui hidung
• menderita rasa sakit di perut, siang, maupun malam
• bangun malam karena sakit
• rewel setelah makan, menarik-narik kaki dan lututnya ke arah dada
• sering bersendawa kering atau tersedak dan cegukan
• air liur keluar secara berlebihan

Perawatan untuk muntah biasanya hampir sama dengan diare, dan sebaiknya segera dibawa ke dokter. Inilah beberapa hal yang dapat dikomunikasikan ke dokter:
• Jelaskan bagaimana muntah dimulai, apakah tiba-tiba atau secara berangsur-angsur.
• Berupa apa muntahan yang terjadi, apakah berwarna jernih, hijau tua, mengental, atau asam? Apakah muntah itu hanya meludah atau disemburkan dengan kuat?
• Berapa sering bayi muntah?
• Berapa banyak muntahan yang dihasilkan setiap kali muntah?
• Apakah ada anggota di rumah yang sakit dengan tanda serupa?
• Apakah perut bayi terluka? Di mana dan berapa banyak? Apakah perutnya kembung seperti balon?
• Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi?
• Bagaimana kondisi bayi secara keseluruhan, lemah, tak bertenaga, riang, rewel, dan sebagainya?
• Apakah kondisi bayi semakin baik atau memburuk, atau sama saja?
• Perawatan yang telah coba Anda berikan.
• Adakah gejala penyakit lain, misalnya diare, demam, batuk?

Pada anak-anak balita yang lebih tua ketimbang bayi, muntah-muntah kadang-kadang juga disebabkan oleh keracunan makanan, yang sudah dibahas dalam beberapa edisi sebelumnya.

Hannie Kusuma

7 Hal Penting Buat Ibu Baru

7 Hal Penting Buat Ibu Baru (Posted:2007-10-26 11:29:35)

Melahirkan anak pertama berjuta-juta rasanya. Senang, cemas, bergairah, letih, dan mungkin juga panik, bercampur jadi satu. Siapa tidak senang mempunyai bayi yang diidam-idamkan? Namun, tiadanya pengalaman merawat bayi yang mungil dan masih rentan, tentu juga membuat banyak ibu baru merasa cemas dan gelisah. Dapatkah aku merawatnya dengan baik? Dapatkah aku pulih dari rasa tidak nyaman dan lelah pasca-persalinan ini? Mungkinkah aku bisa membagi waktu antara karier dan anak? Siapa yang bisa membantuku menjaga dan merawat anak ketika aku tidak di rumah, dan serentetan pertanyaan yang belum jelas jawabannya berputar-putar di benak

Transisi menjadi seorang ibu memang tidak selamanya mudah dilewati. Ada orang yang menempuh proses ini dengan santai dan tenang, tapi ada juga yang gelisah dan khawatir bukan main. Semua perasaan itu sebenarnya wajar saja, karena bagaimanapun peran baru memang menimbulkan pertanyaan, sekaligus juga tantangan. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengubah tantangan itu menjadi peluang, bukan menjadi kendala. Artinya, dengan menjadi seorang ibu, akan bertambah pula pengalaman, keterampilan, dan kebijaksanaan seorang wanita dalam menjalankan roda kehidupannya sehari-hari.

Agar lebih mudah menjalani transisi sebagai seorang ibu, ada beberapa informasi yang sebaiknya diketahui. Di antaranya yang terpenting adalah:

Istirahat yang cukup. Untuk merawat bayi, diperlukan stamina dan tenaga yang berlebih ketimbang dulu. Maka itu, dalam keadaan normal, ibu baru memerlukan masa istirahat selama 4-6 minggu, sampai tubuh berangsur-angsur pulih dari persalinan. Diharapkan, dalam waktu-waktu awal tersebut, selain ada suami yang mendampingi, ada juga supporting family atau orang lain yang membantu mengurus bayi. Demikian pula halnya bila ibu harus kembali bekerja.

Pendarahan atau nifas. Setelah bersalin, adalah hal yang wajar bila ibu baru mengeluarkan darah/nifas selama beberapa hari. Nifas atau istilah medisnya lokia, biasanya berupa cairan berwarna merah gelap dan kental, serta mengandung serpihan-serpihan kantung ketuban (amnion). Pada hari ke-4, cairan ini mulai berubah menjadi kecokelatan dan lebih encer. Seminggu kemudian, warnanya menjadi lebih terang atau kekuningan dan semakin encer, sampai hari ke-21. Umumnya, lokia berlangsung 3-6 minggu. Bila lokia berbau, ada kemungkinan terjadi infeksi, dan ini sebaiknya dikonsultasikan ke dokter kandungan.

Wajar saja bila ibu baru merasa mudah menangis dan mudah letih. Inilah yang sering disebut sebagai baby blues, dan muncul setelah 3-5 hari melahirkan. Penyebabnya, antara lain perubahan kadar hormon yang terjadi dengan cepat serta kekhawatiran yang berlebih pada diri seorang ibu untuk merawat bayinya. Baby blues ringan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan hari atau minggu. Namun yang berat mungkin akan semakin parah dan butuh bantuan psikolog. Pernah dengar kasus baby blues yang menimpa mendiang Putri Diana dan Brooke Shields? Kasus berat bisa saja membuat seorang ibu depresi. Gejalanya adalah ibu merasa tidak mampu merawat bayi, gampang menangis, mudah cemas, hilang nafsu makan, moody, sulit tidur, cepat letih, dan kehilangan hasrat untuk berhubungan intim dengan suami.

Adanya perubahan BAB dan BAK. Setelah proses persalinan, BAB dan BAK mungkin akan terasa sedikit sakit, apalagi bila ada perobekan ketika persalinan. Maka itu, sering dokter menyarankan agar tidak mengejan ketika BAB. Agar proses BAB mudah, dianjurkan agar ibu sering mengonsumsi air putih dan makanan kaya serat supaya tidak sembelit.

Merawat bekas jahitan atau operasi. Anda yang melahirkan dengan cara normal sebaiknya mengupayakan agar daerah sekitar vagina selalu dalam keadaan kering dan bersih. Gantilah pembalut sesering mungkin, dan biarkan luka jahitan terkena udara terbuka untuk beberapa saat setiap harinya. Penyembuhan biasanya memerlukan waktu sampai seminggu. Sementara itu, untuk Anda yang menjalani operasi Caesar, basuhlah luka dengan air hangat setiap kali mandi. Bila sudah kering, bersihkan dengan sabun antiseptik. Di pasaran juga tersedia plester khusus untuk menutup luka operasi.

Terasa gatal pada bekas luka. Banyak ibu bingung mengapa bekas lukanya terasa gatal dan kencang. Hal ini sebenarnya hal yang normal dan menandakan sedang terjadi masa penyembuhan. Gejala ini akan berkurang bila masa haid tiba.

Menyusui mempercepat rahim pulih dan menunda masa haid. Bila Anda menyusui, jangan heran bila Anda belum juga memperoleh haid. Menyusui memang merupakan kontrasepsi alamiah karena haid akan tertunda. Selain itu, menyusui juga membuat rahim akan cepat pulih – ditandai dengan rasa kencang ketika bayi mengisap ASI.

mengatasi Baby Blues

mengatasi Baby Blues (Posted:2007-10-26 11:32:54)

Baby blues, atau tekanan yang menghinggapi para ibu pasca-persalinan 3-4 hari, adalah salah satu hal yang umumnya diderita para ibu baru. Inilah istilah yang menjelaskan mengapa Anda secara mendadak meneteskan air mata ketika sedang menggendong atau menyusui bayi.


Setelah beberapa minggu menjadi orangtua, berbagai hal memang tampak berbeda. Kepercayaan diri misalnya, dulu begitu tinggi. Namun, dengan seorang bayi mungil di tangan Anda, bisa jadi pede itu memudar. Bayi yang begitu lemah dan rentan membuat Anda ragu, mungkinkah dapat merawatnya dengan baik? Sebagai seorang pribadi, Anda yang telah melahirkan merasa begitu letih, mungkin juga kehilangan banyak darah, namun tampaknya sang bayi tak juga mau bekerjasama. Teorinya ia akan tidur selama 17-20 jam sehari, namun Anda merasa setiap menit mendengar tangisannya. Baru saja Anda berbaring dan memejamkan mata, bayi kembali menangis. Pada saat menyusui, ASI sepertinya tidak cukup atau keluar tapi tidak lancar. Bahkan, karena puting Anda lecet, setiap menyusui rasanya sakit sekali. Lalu, kamar bayi yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa, sepertinya sempit dan terlalu pengap dan panas. Pengasuh anak yang dibilang senior, ternyata kok canggung dan mengecewakan. Semua serbasusah. Belum lagi kalau Anda merasa suami tidak ikut membantu, aduh, dunia sepertinya begitu kejam.

Rentetan peristiwa di atas bisa terjadi dalam kehidupan seorang ibu yang baru melahirkan. Sedihnya, peristiwanya mungkin terulang dalam beberapa hari, bisa jadi sampai sebulan. Tidak heran betapa berat blues yang diderita para ibu. Bahkan, menurut Dr. William Sears, penulis buku The Baby Book, 50-75 persen dari semua ibu merasakan sejumlah tingkat baby blues (dan dokter ini yakin jumlahnya akan meningkat menjadi 100 persen bila pria yang melahirkan dan menyusui bayi). Di samping merasa kesal, sekitar 10-20 persen ibu berada dalam keadaan depresi setelah melahirkan. Hal ini dibuktikan dengan perasaan gelisah, sulit tidur, takut, lesu, menangis, merasa masalahnya paling berat, dan kadang-kadang bersikap negatif terhadap suami dan bayi. Sedihnya lagi, banyak suami yang komentarnya seperti ini: “Manja amat sih kamu, bukannya setiap wanita lain di dunia ini juga melahirkan dan menyusui. Kok kamu merasa berat banget, bukannya itu lumrah?”

Padahal, baby blues ataupun depresi setelah melahirkan merupakan hal yang wajar, isyarat bahwa tubuh seseorang sudah melewati batas kemampuan fisik, mental, dan emosi untuk menyesuaikan semua perubahan yang terjadi. Ini bukanlah kelemahan, hanya saja kapasitas tubuh terlampau lemah untuk penyesuaian, terutama karena energi habis untuk persalinan dan perawatan bayi, serta berubahnya hormon di dalam tubuh.

Kabar baiknya adalah, baby blue dapat ditangani atau dikurangi, yaitu dengan:

Mengundang anggota keluarga untuk ikut membantu. Dalam hal ini, orangtua baru perlu menyadari bahwa ibu membutuhkan waktu untuk beristirahat. Karena itu, dukungan dari seluruh anggota keluarga sangat dibutuhkan. Nenek si bayi, bibinya, ataupun anggota keluarga besar yang lain, boleh diundang bila bersedia membantu. Demikian pula halnya dengan pengasuh bayi ataupun orang yang akan mengurus rumahtangga. Semua tenaga bantuan ini sangat berguna agar ibu dapat memulihkan kembali kondisinya pasca-persalinan. Perlu diingat, bila kehadiran anggota keluarga malah mengganggu karena jadi merepotkan, sebaiknya pertimbangkan kembali undangan itu.

Utamakan hal yang menjadi prioritas. Kadang-kadang, hanya merawat dan mengasuh bayi menjadi seseorang yang terbiasa bekerja di kantor atau di tempat lain menjadi minder dan tidak berarti. Boleh jadi ada orang yang ingin segera mengakhiri masa cuti, atau orang yang ingin segera melakukan sesuatu hal yang lain. Sebenarnya, bila Anda merasa bahwa mengasuh seorang manusia baru adalah pekerjaan terpenting di dunia, maka Anda akan merasa lebih baik. Maka itulah, mengasuh dan merawat anak sebaiknya menjadi prioritas dan hal lain tidak menjadi beban pikiran, kecuali bila keadaan memang membuat Anda harus memprioritaskan hal lain.

Pergilah berjalan-jalan. Baby blues adapat dikurangi dengan melihat alam sekitar, tidak hanya terkurung empat dinding saja. Menjadi ibu baru tidak membuat Anda menandatangani kontrak sebagai penghuni ‘gua’. Ajaklah bayi beserta Anda, dan cobalah hirup udara taman yang segar serta suara-suara alam yang menenangkan, paling tidak sehari dalam seminggu.

Cobalah terapi kelompok. Banyak lagi pasien baby blues di dunia ini. Hubungilah dokter Anda, tanyakan klinik yang memberikan terapi untuk mengurangi rasa depresi ini. Berbagi pengalaman dengan orang lain membuat Anda sadar bahwa orang paling malang sedunia itu bukan Anda.

Makan dengan baik. Jangan sampai seorang ibu baru kehabisan energi karena dia tidak memerhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Nutrisi yang tidak cukup bakal menyebabkan lebih banyak depresi.

Tetap merawat diri dengan baik. Punya bayi memang membuat ‘me time’ atau waktu untuk diri sendiri berkurang, namun usahakan untuk selalu tetap memilikinya sejenak saja. Pergunakan waktu yang berharga itu untuk mandi dan merawat diri, menyisir, atau bahkan menikmati pijat aromaterapi serta senam untuk mengembalikan kekencangan tubuh. Intinya, carilah cara untuk menyenangkan diri sendiri, selain merawat bayi Anda, dan mintalah pengertia suami dan anggota keluarga yang lain untuk hal ini.

Tuliskan bila sempat. Segala perasaan setelah melahirkan bisa dituliskan dalam buku harian Anda, sehingga dapat dibandingkan bagaimana perasaan Anda seminggu atau sebulan yang lalu, dengan perasaan Anda harini. Menulis akan membuat tugas merawat bayi menjadi lebih menyenangkan karena Anda dapat merekam kembali momen-momen penting dalam hidup Anda ketika Anda senang, sedih, tertekan, dan bahagia bersama si buah hati.

Pergilah ke psikiater atau psikolog. Bila depresi tak juga berkurang, boleh jadi Anda membutuhkan bantuan ahli. Jangan ragu untuk meminta pertolongannya, sebelum depresi terlanjur parah. (HANNIE KUSUMA)

Bayi Indonesia Rentan Penyakit

Bayi Indonesia Rentan Penyakit

JAKARTA, (PR).-
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro SpA(K) mengatakan, hingga saat ini bayi masih sangat rentan terhadap risiko terjangkitnya bermacam penyakit. Karena itu, untuk mencegah dari penyakit yang berbahaya, maka imunisasi terhadap bayi harus selalu diperhatikan dan jangan sampai terlambat.

"Sebagai usaha pencegahan dari terjangkitnya bayi dari penyakit yang berbahaya, sejak tahun 1977 pemerintah Indonesia mencanangkan program imunisasi untuk setiap bayi di Indonesia," ungkapnya ketika menjelaskan produk inovasi terbaru vaksin kombinasi DPaT/Hib untuk bayi, di Hotel Borobudur, Jakarta, baru-baru ini.

Produk berupa Vaksin DPaT/Hib pertama di Indonesia ini bermerek dagang Infanrix/Hib dan diperkenalkan ke media pada acara media briefing serta jumpa pers mengenai "Vaksin Kombinasi DPaT/Hib: Tren Global Vaksinasi".

Sri Rezeki menjelaskan, saat ini pemerintah menetapkan lima jenis vaksin yang wajib diberikan kepada bayi di Indonesia. Lima jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah tujuh penyakit ini masuk Program Pengembangan Imunisasi (PPI).

Sementara itu, seiring dengan globalisasi serta untuk mencegah penyakit-penyakit yang spesifik sesuai dengan keadaan suatu negara, pemerintah juga melaksanakan program vaksin anjuran, yaitu vaksin MMR, Tifus, Cacar air, Hepatitis A dan Haemophylus Influenzae tipe B (Hib).

"Hal ini berarti meningkatkan jumlah vaksin yang diberikan kepada bayi. Melihat banyaknya jumlah vaksin yang harus diberikan, sering menimbulkan kendala yang menghalangi orangtua memberikan vaksin untuk bayinya," katanya.

Menurut dia, seringnya kesakitan yang dialami oleh bayi karena suntikan serta banyaknya jumlah kunjungan ke dokter adalah kendala yang memengaruhi tingkat kepatuhan orang tua memberikan vaksin untuk anaknya. Belum lagi kendala lainnya.

Karena itu, dengan kemajuan teknologi ternyata membantu meminimalkan kendala tersebut yaitu dengan berhasilnya diciptakan vaksin kombinasi. Saat ini GlaxoSmithKline meluncurkan produk vaksin DPaT/Hib atau dikenal dengan nama Infanrix/Hib.

Minim efek samping

Menurut Dr. Rajendra Hendrajid, Clinical Research Manager Glaxo Smith Kline, Infanrix /Hib adalah vaksin DPaT/Hib pertama di Indonesia, yaitu vaksin DPT/Hib dengan efek samping yang minim - seperti demam, kemerahan di bekas suntikan, dan bengkak - sehingga nyaman bagi bayi dan orang tua.

Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi yang paling tua. Vaksin ini memang yang paling baik dikombinasikan dengan vaksin lain, seperti dengan Hib. Vaksin kombinasi DPT/Hib yang ada sebelumnya cukup ampuh dalam memberi perlindungan bayi terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus dan penyakit akibat bakteri Haemophilus Influenzae type B (Hib)," tuturnya.

Namun, kata Sri, dalam praktik di lapangan vaksin DPT konvensional memiliki efek samping sebagai gejala ikutannya seperti demam yang tinggi, bengkak dan nyeri di sekitar suntikan. Sehingga sering menjadi kendala bagi dokter dan orang tua," tuturnya.

Anita, seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak (usia 3 tahun dan 6 bulan) mengungkapkan, anak keduanya telah mendapatkan vaksinasi DPaT dan Hib secara bersama-sama, dan menggunakan vaksin Infanrix/Hib.

"Dan ternyata anak saya tidak mengalami demam setelah disuntik, tidak seperti anak kedua saya. Saya sangat senang," ujar Anita seraya menyarankan para orang tua menggunakan vaksin kombinasi ini. "Kalau diperhitungkan, vaksin kombinasi ini sangat menguntungkan karena menghemat waktu, biaya untuk dokter maupun transportasi dan yang terpenting bayi juga lebih nyaman karena tidak perlu berulangkali di suntik," ujarnya.

Menurut Prof. Sri Rezeki, vaksin kombinasi merupakan salah satu langkah penting dalam mengontrol pemberian vaksin pada bayi sehingga membantu meningkatkan angka cakupan imunisasi - dalam usaha pencegahan penyakit-penyakit berbahaya.

Semula vaksin Infanrix dan Hiberix diberikan masing-masing tiga kali. Dengan demikian balita akan mendapatkan 6 kali suntikan imunisasi, masing-masing 3 kali imunisasi DPT dan 3 kali imunisasi Hib.

Dengan adanya vaksin kombinasi Infanrix/Hib, maka balita hanya akan mendapatkan tiga kali imunisasi. Vaksin Infanrix & Hib ini telah diformulasikan untuk dapat digunakan dalam satu kali penyuntikan dengan dosis 0.5 ml untuk tiga batasan usia 2-3 bulan, 3-5 bulan dan 4-6 bulan. (A-78)***